Tilikdesa.id | Indonesia itu anugerah. Banyak orang bilang, negeri ini seperti sepotong surga. Indahnya tak terkira. Kekayaannya melimpah tiada tara. Keramahan penduduknya menjadi sumber kebahagiaan yang tak fana. Musimnya berputar memberikan keseimbangan. Hidup di Indonesia, sejatinya seperti berwisata yang tiada putusnya.
Keragaman Indonesia, dipenuhi kehidupan yang aneka warna. Potensi flora dan faunanya, termasuk terbanyak dan terbaik di dunia. Ragam ikan yang bermukim di bentang lautan nusantara, adalah ragam ikan terkaya di seluruh kawasan bumi. Di Indonesia juga punya berbagai jenis pemukiman yang dihuni penduduknya. Ada kota yang tak pernah henti berkarya. Indonesia juga berlimpah desa yang menawarkan damai dan bahagia. Kemampuan menjaga harmoni kehidupan kota dan desa, menjadi tantangan pembangunan Indonesia.
Mengacu data Badan Pusat Statistik, tahun 2020 Indonesia memiliki 83.931 wilayah administrasi setingkat desa. Namanya berbeda-beda. Ada desa, ada kelurahan, ada nagari, ada juga penyebutan satuan pemukiman di wilayah transmigrasi. Dari semua angka wilayah administrasi itu, 80 persen wilayah Indonesia masuk dalam kategori desa.
Sejarah desa, awalnya adalah benteng pertahanan hidup keluarga. Hingga saat ini, banyak desa yang memiliki hubungan kekerabatan sangat kental karena ikatan keluarga masa lalu. Dalam perkembangannya, desa tidak hanya tempat bermukim dan bertahan hidup. Desa kemudian menjadi tempat berkarya. Banyak yang kemudian muncul prestasi yang berbasis dari potensi desa. Desa pada akhirnya menjadi miniatur puncak karya terbaik dari warganya.
Pada saat ini, desa adalah sentral nadi pembangunan di sebuah negara. Desa memiliki infrastruktur pemerintahan yang bisa mandiri menggerakkan pembangunan desanya. Potensi kemandirian desa, bisa menjadi sumber energi untuk menggerakkan pembangunan secara nasional. Kalau diibaratkan energi listrik, tiap desa adalah turbin pembangunan. Ketika dikelola dengan baik, maka turbin-turbin itu akan menghasilkan energi tak terhingga untuk pembangunan dan kemandirian bangsa.
Penyebutan desa sebagai sumber energi pembangunan nasional, bisa dirasakan menjadi sebuah kebeneran. Karena desa memiliki perangkat yang lengkap. Ada aparat pemerintah eksekutif yang menjalankan pemerintahan. Badan Perwakilan Desa menjadi lembaga perwakilan yang menjalankan fungsi legislasi di tingkat desa. Di Desa juga ada tokoh agama. Banyak anak muda yang bisa dijadikan motor penggerak. Sebagai sebuah kesatuan wilayah pembangunan terdepan, desa menjadi contoh berjalannya fungsi pemerintahan di negara kita. Dan kalau semua peran desa bisa dijalankan dengan sempurna, kita bisa bayangkan betapa energi kebaikan desa akan menjadi ledakan kekuatan negara.
Peran penting desa, menyadarkan kita betapa desa adalah sebuah potensi. Desa adalah kekuatan. Desa adalah sumber harapan yang bisa dikelola untuk menjadi sumber kekuatan negara. Tidak ada pilihan, selain menata desa dengan baik. Agar semua potensi keunggulan desa bisa menjadi kekuatan nasional kita ke depan.
Bagaimana cara mengembangkan potensi desa? Secara sederhana kita bisa belajar pada potensi manusia. Agar tumbuh, desa harus diberi kebutuhan dasar yang diperlukan. Sumber pembangunan desa saat ini sudah ada alokasi dana desa. Kebutuhan lanjutan, perangkatnya harus dilatih untuk bisa memberikan pelayanan standar. Warga harus bisa membangun desanya dengan potensi dasar yang sudah ada. Dan terakhir, kalau desanya
sudah berjalan secara normal, maka kita gali potensi lanjutan yang ada di masing-masing desa, untuk kita ledakkan sebagai potensi hebat pada masa yang akan datang.
Tema besar yang pernah diserukan oleh para pemimpin pada masa lalu, seperti satu desa satu produk unggulan, tidak boleh lagi hanya kesedar slogan. Pada jaman dulu, mewujudkan mimpi satu desa memiliki satu produk unggulan, mungkin terkendala karena untuk sekedar bisa menjalankan fungsi standar saja pemerintah memiliki kesulitan operasional. Dengan semua capaian kemajuan yang kita miliki hari ini, sudah waktunya untuk bergerak lebih hebat. Desa harus di dorong hebat, agar kemajuan tidak hanya Nampak di wilayah kota. Semangat membangun desa sambari menata kota, yang dalam Bahasa jawa diserukan dengan kalimat ‘mbangun deso noto kutho, saatnya kita wujudkan.
Kita boleh berharap, desa akan menjadi turbin-turbin energi pembangunan untuk membuat Indonesia gemerlap sebagai sumber cahaya kehidupan dunia. Dari desa, kita bersama bergerak memakmurkan dunia. (AAF)